PENGABDIAN Kepada Masyarakat, UNESA Bekali Para GURU dan Karang Taruna Desa TEBON dengan Keterampilan Mengembangkan OlahRaga TRADISIONAL
Magetan-KIO. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Surabaya (PKM-UNESA) melaksanakan program pengembangan desa olahraga tradisional di Desa Tebon, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Program ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan permainan tradisional sebagai aktivitas edukatif, rekreatif, dan berpotensi mendukung wisata desa.
Kegiatan utama dilaksanakan pada 12 Juli 2025 dan melibatkan 35 peserta yang terdiri atas guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta anggota Karang Taruna Desa Tebon. Para peserta memperoleh pembekalan mengenai pengelolaan desa wisata berbasis olahraga, strategi pemberdayaan masyarakat, pengembangan permainan tradisional sebagai produk lokal, dan pemanfaatan media sosial untuk promosi potensi desa.
Program dipimpin oleh Moh. Fathur Rohman, M.Pd., bersama Dr. Mochamad Purnomo, M.Kes., Donny Ardy Kusuma, S.Pd., M.Kes., Muhammad Dzul Fikri, S.Or., M.Pd., dan Abdul Hafidz, S.Pd., M.Pd. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa sebagai fasilitator lapangan, pendamping kelompok, serta tim dokumentasi. Dampak Kegiatan dalam Angka 24% → 89%, Pengetahuan tentang desa wisata olahraga 8% → 74%, Pengalaman membuat alat permainan tradisional 0 → 35 orang dan Partisipasi warga dalam kegiatan pelatihan 41% → 93%.
Kesadaran Menjadikan Olahraga Tradisional Sebagai Produk Unggulan Desa
Belajar Mengelola Potensi Lokal
Sebelum kegiatan utama, tim PKM melakukan survei awal dan koordinasi bersama pemerintah Desa Tebon. Dua kali pendampingan daring juga diberikan kepada calon peserta untuk memperkenalkan konsep desa wisata olahraga, manfaat sosial-ekonomi pelestarian permainan tradisional, serta peluang pengembangannya sebagai daya tarik wisata edukatif. Sehari sebelum pelaksanaan, tim kembali meninjau lokasi dan melaksanakan gladi bersih.
Peninjauan tersebut tidak hanya memastikan kesiapan teknis, tetapi juga digunakan untuk mengidentifikasi area yang berpotensi dikembangkan menjadi zona permainan tradisional permanen. Pada sesi teori, peserta mengikuti presentasi, diskusi kelompok, dan pemetaan gagasan mengenai manajemen desa wisata olahraga. Materi diarahkan agar guru PJOK dan Karang Taruna mampu menjadi penggerak kegiatan, menyusun aktivitas yang aman dan menarik, serta mengomunikasikan nilai budaya dari setiap permainan kepada anak-anak, masyarakat, maupun pengunjung.

Dari Pembuatan Alat hingga Simulasi Permainan
Sesi praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan didampingi instruktur untuk membuat terompah panjang, egrang bambu, ketapel, dan boomerang sederhana. Setelah alat selesai, peserta melakukan simulasi permainan di lapangan terbuka untuk memahami aturan, aspek keselamatan, manfaat rekreatif, serta cara menyajikannya dalam konteks wisata edukatif.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang kuat pada sejumlah indikator. Pengetahuan peserta mengenai desa wisata olahraga meningkat dari 24 persen menjadi 89 persen. Peserta yang pernah membuat alat permainan tradisional meningkat dari 8 persen menjadi 74 persen. Kesadaran untuk menjadikan olahraga tradisional sebagai produk unggulan desa juga naik dari 41 persen menjadi 93 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak berhenti pada pengenalan konsep. Peserta memperoleh pengalaman nyata dalam memproduksi alat, mengelola permainan, membangun narasi budaya, dan melihat peluang olahraga tradisional sebagai bagian dari aktivitas pendidikan, festival desa, serta usaha mikro berbasis masyarakat.
Menyiapkan Keberlanjutan Program
Sebagai tindak lanjut, tim PKM bersama pemerintah desa dan masyarakat merencanakan pelatihan lanjutan bagi calon kader penggerak. Materi lanjutan akan difokuskan pada penyempurnaan alat agar lebih aman dan menarik, pengelolaan kegiatan, serta pelayanan wisata edukatif berbasis permainan tradisional. Desa Tebon juga diarahkan untuk mengembangkan zona permainan tradisional permanen di lahan desa. Gobak sodor, egrang, dan terompah panjang direncanakan menjadi atraksi utama.
Zona tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara rutin oleh masyarakat, sekolah, maupun pengunjung sebagai ruang rekreasi, pembelajaran, dan pelestarian budaya lokal. Selain pengembangan fasilitas, Karang Taruna akan didampingi untuk mengelola media sosial desa sebagai sarana dokumentasi dan promosi. Tim PKM juga menyiapkan buku panduan singkat yang memuat cara pembuatan alat, aturan permainan, aspek keselamatan, dan peluang penerapannya dalam kegiatan wisata.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, guru PJOK, pemuda, dan masyarakat, Desa Tebon diharapkan berkembang menjadi desa wisata olahraga yang edukatif, mandiri, dan memiliki identitas kuat berbasis budaya lokal. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa olahraga tradisional dapat menjadi instrumen pelestarian budaya, penguatan partisipasi sosial, dan pengembangan potensi ekonomi masyarakat. RED-RIF
Catatan RED-AKSI: Naskah ini disusun sebagai draft PUBLIKASI media elektronik berdasarkan LAPORAN akhir kegiatan PKM UNESA di Desa TEBON, Kabupaten MAGETAN.



